Desain Atap Hijau Bikin Rumah Nyaman dan Hemat Energi

“Para professional di bidang arsitektur memiliki peran dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya green building. Mereka adalah the agent of change yang tidak hanya berbicara bangunan dari sisi fungsi dan estetika, tetapi juga aman, sehat dan hemat energi,” ujar Naning Adiwoso, Penggagas dan Ketua Green Building Council Indonesia yang menjadi salah satu dewan juri kompetisi Onduline Green Roof Award (OGRA) 2019 bagi karya-karya di bidang konstruksi dan arsitektur berkelanjutan (suistanable contruction) yang fokus pada desain atap rumah tropis.

Penerapan desain atap hijau memang terbukti mampu mensiasati penggunaan energi yang boros. “Beban AC dan penerangan di dalam sebuah bangunan, baik rumah maupun bangunan komersial itu cukup tinggi. Maka itu, pemilihan bahan atap rumah harus diperhatikan agar memberi manfaat berkelanjutan bagi bangunan itu sendiri. Penempatan atap hijau dapat mengurangi suhu hingga 30 derajat celcius saat cuaca panas. Penghuni jadi lebih nyaman, rumah juga jadi hemat energi,” katanya.

Hal itulah yang mendorong produsen atap ringan berbahan baku bitumen, serat selulosa, organik, resin dan mineral-mineral yang ramah lingkungan Onduline Indonesia, menggelar kembali OGRA 2019 dengan tema “Tropical Green Roof System” dengan hadiah senilai 75 juta rupiah. 

“Kompetisi ini terbuka bagi karya-karya yang memiliki konseptual dan berkelanjutan terkait kebutuhan desain atap yang kuat namun tetap ramah lingkungan dan cocok untuk daerah tropis, dan tahun 2019 menjadi kompetisi desain ke-4 kalinya yang diselenggarakan oleh Onduline sejak tahun 2013” ujar Country Director PT Onduline Indonesia, Tatok Prijobodo dalam siaran persnya,  Selasa (22/7/2019).

 

Opsi Desain Atap Bangunan Ramah Lingkungan

Melalui kompetisi OGRA 2019 para peserta diharapkan dapat memberikan opsi desain atap bangunan yang ramah lingkungan untuk direkomendasikan kepada para pengguna jasa mereka.

Menurut Tatok, Onduline Indonesia menggelar kompetisi ini untuk mengembangkan perspekif baru tentang masa depan dunia konstruksi, arsitektur dan properti. Melalui kompetisi ini juga diharapkan muncul arsitek-arsitek muda berbakat yang nantinya akan menjadi penerus perancang proyek-proyek properti inovatif di Indonesia.

Kompetisi ini terbuka bagi para arsitek, desainer interior, perencana, insinyur, pemilik proyek, developer dan perusahaan konstruksi yang telah  berprofesi minimal satu tahun. Para peserta diharapkan dapat memberikan konsep yang suistanable namun tetap indah dipandang dalam menjawab permasalahan lingkungan, kemampuan tahan air dan sistem drainase terkait rancangan atap rumah ramah lingkungan.

Kompetisi ini juga dapat diikuti oleh arsitek independent dan tidak harus bergabung dengan asosiasi ikatan professional.  Bentuk bangunan juga bisa berupa gedung komersial (high rise), rumah tinggal, resort dan bangunan lainnya. Luas bangunan atap mulai 150 hingga 350 m2. “Tidak harus proyek jadi, karya yang diikutsertakan juga boleh hanya konseptual design” imbuh Tatok.

Karya-karya yang berlomba akan dievaluasi oleh sejumlah tim juri yang independen, dengan menggunakan sejumlah isu bangunan tropis berkelanjutan sebagai tolok ukur. Diantaranya berkaitan dengan dampak estetika dan konstektual serta inovasi dan transferability (bisa diterapkan) juga akan menjadi pertimbangan kualitas karya yang dilombakan.

 

Sumber : Wahyu Ardianto - Liputan6.com

module = detnews2